Menulis, Sebuah Karya atau Sebuah Bentuk Usaha (mencoba, Ditinjau dari sisi Spritual)

Minggu, September 13, 2009

Beragam cara bagi setiap orang untuk berekspresi, mengeluarkan inspirasi, berkreasi, dan berbagi ide.

Salah satunya yaitu dengan menulis.

Tapi ternyata tidak mudah hal tersebut dilakukan walau hanya dengan tulisan.

Sehingga banyak tulisan-tulisan yang hanya menjadi sampah, tetapi tidak sedikit juga yang menjadi berkah, bahkan bisa membawa berkah.

Tak bisa dipungkiri, ketika kata-kata tak mampu berbicara, maka tulisanlah yang dapat menjelaskannya,

tapi ketika kita tidak membacanya maka apalah arti dari sebuah tulisan itu.

Tentu yang akhirnya dirasakan adalah kita kan terjebak dengan pandangan pribadi atau malah terjerumus dengan kata-kata sendiri.

Hal ini sebenarnya terbukti bagi kita sebagai makhluk yang beragama.

Apalah artinya sebuah kitab suci?

Apakah itu hanya sebuah karya atau sebuah bentuk usaha?

Tidak usah menjawab, sebelum kita membacanya.

Yang perlu dijawab adalah, sudahkah kita membacanya?


Sedikit menyimpang, ketika di dalam judul adalah menulis, tetapi akhirnya banyak yang dijabarkan adalah tulisan.

Bukan bermaksud meragukan ke Maha Kuasaan Tuhan, tapi dalam hal ini ternyata kita telah diberi hal sungguh luar biasa.

Hanya kita manusia yang bisa menulis, membaca dan memahaminya hingga sampai mengamalkannya.


Jika menulis adalah sebuah karya, maka bacalah hasilnya untuk menilainya.

Jika menulis adalah sebuah bentuk usaha, maka bacalah tulisannya untuk memperoleh hasilnya.


Dalam sebuah kitab suci (Al-Qur'an) : "Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan" (QS : Al'Alaq ayat 1)

Itulah bentuk bukti karya dalam memberi petunjuk kepada Umat Manusia dan itu juga merupakan bukti bentuk usaha agar manusia senantiasa berpedoman kepada Agama agar berada pada jalan yang lurus.


(demecheng : wangidotcom, 10/9/09)

Sebuah Keyakinan Keberanian

Kamis, September 10, 2009


Maju atau mundur adalah pilihan, lanjut atau tidak lanjut adalah jawaban.
Semua itu takkan muncul jika kita tidak mendapatkan tekanan yang merupakan
suatu bentuk ujian yang luar biasa, ya, karena Sang Maha Kuasa yang langsung mengujinya.

Niat yang ikhlas, ternyata tidak cukup hanya di awal, karena ketika di tengah sudah mulai digoyah, dan di akhir nantinya akan semakin dipertanya.

Sebuah perjalanan dalam membangkitkan semangat sekuat dan semulia berlian.


Ternyata semua yang dijalani itu semakin membuktikan bahwa kita manusia hanya bisa berencana, kepastian yang terjadi, hadir pada saat kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang dhoif, yang tak mampu memutuskan sesuatu tanpa mengharap petunjuk dariNya.

Ketergesaan hanya mengakibatkan kesalahpahaman, berharap kepada manusia hanya mengakibatkan kekecewaan, hanya rasa kepedulian yang dapat saling menyatukan.

Suatu bentuk training yang benar-benar membawa diri agar terbebas dari belenggu.

Pengalaman pribadi hanyalah kenistaan, persepsi hanyalah kenestapaan, berfikir positif tak cukup dalam bualan. walau jiwa dan raga dikorbankan, semua itu hanya kan jadi kesombongan jika tanpa rasa kasih sayang dalam sebuah persahabatan menjalani perjuangan.

Suara hati, benar-benar di uji, tanpa ampun dia berbisik hingga diluar batas kehendak.
Kalaulah suara hati ini tanpa asma2Nya tentulah tak satupun yang dapat terlaksana.


Jika akhirnya itu semua dapat kita lalui, apakah Alloh swt kejam atau sayang kepada kita?

Jika akhirnya itu semua dapat kita selesaikan, Apakah Alloh swt sedang menguji atau memberi cobaan kepada kita?

Jika akhirnya dengan itu semua kita bersama, Apakah nantinya kita dapat bertemu denganNYa di dalam SurgaNya?

Mampukah kita menjawabnya, ketika semua anggota tubuh ini yang bersaksi kepadaNya.


Ternyata ini membuktikan bahwa keyakinan saja tidak cukup tanpa keberanian.
Ketika kita yakin bahwa Alloh swt sayang kepada kita, maka kita harus berani menjalani Ujian dariNYa.
Karena yang pasti itu hanyalah pertemuan denganNya.

Bersyukur dan bersabar adalah kekuatan kita bersama.



Salam 165, Kepada saudara spiritualku Satria 165

(demecheng : Kampunk 165, 10/9/09)

Awak dan Awak Medan

Bagiku dalam setiap pertemuan selalu berbuah perkumpulan. Tak dapat dipungkiri, pertemuan sekali, akhirnya berkali-kali ini terbukti karena disini banyak kawan lama, kedan2 awak., he2.,

Lanjut... cerita punya cerita, pertemuan demi pertemuan akhirnya membuahkan hasil yang signifikan, yaitu blog ku yang lama terdiam akhirnya mulai kutuliskan kata demi kata.

Gak tau kenapa, dari sekian banyak komunitas dan acara komunitas blogger yang aku ikuti, disini aku menemukan kembali jati diriku sebagai penulis. cieee.,

Karena dalam setiap event yang dilakukan, hati kecil ni slalu berkata :
"Klo bisa kau datang lah, kasian orang tu, walaupun banyak yang diundang, itu2 az nya yang datang, lagipula, kapanlagi kalian bisa kumpul" (terbukti kan coy? he2)

Tapi, sekarang aku sadar bahwa kehadiranku tidak ada artinya tanpa aku mengambil hikmah dari setiap pertemuan yang dilakukan.

Kopdar, Deklarasi Offline Merdeka 2.0 (Memeriahkan HUT RI ke 64), Pesta Blogger 2009 Chapter Medan, and next......
Berangkat Laee....

Sedikit kenangan awak.,
Deklarasi Offline Merdeka 2.0

Pesta Blogger 2009 Chapter Medan


Yang bisa awak tonton







In House Training ESQ Goes to Campus

Rabu, Agustus 26, 2009



Ini merupakan kegiatan Training ESQ yang ditujukan kepada para Mahasiswa khususnya di Sumatera Utara.

Kegiatan ini merupakan bentuk dari rasa kepedulian FOSMA SUMUT (FOSMA Kampunk 165) dalam menyemarakkan kegiatan di Bulan Ramadhan.

Kriteria Suami Yang Sholeh

Selasa, November 11, 2008


Message:
Kriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah,
Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan, sebagaimana firman Allah swt.,
“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)
”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)
Memberikan nafkah batin
Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.
”Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)
Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.
”Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”
Memberi Bimbingan pada Keluarga
Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.
”Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)
”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)
Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya
Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya
”Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)
”...dan bergaullah dengan mereka secara baik...” (Q.S. An-Nisaa :19)
”Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.”(H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, dan yang lainnya)
Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A'lam.