Awak dan Awak Medan

Kamis, September 10, 2009

Bagiku dalam setiap pertemuan selalu berbuah perkumpulan. Tak dapat dipungkiri, pertemuan sekali, akhirnya berkali-kali ini terbukti karena disini banyak kawan lama, kedan2 awak., he2.,

Lanjut... cerita punya cerita, pertemuan demi pertemuan akhirnya membuahkan hasil yang signifikan, yaitu blog ku yang lama terdiam akhirnya mulai kutuliskan kata demi kata.

Gak tau kenapa, dari sekian banyak komunitas dan acara komunitas blogger yang aku ikuti, disini aku menemukan kembali jati diriku sebagai penulis. cieee.,

Karena dalam setiap event yang dilakukan, hati kecil ni slalu berkata :
"Klo bisa kau datang lah, kasian orang tu, walaupun banyak yang diundang, itu2 az nya yang datang, lagipula, kapanlagi kalian bisa kumpul" (terbukti kan coy? he2)

Tapi, sekarang aku sadar bahwa kehadiranku tidak ada artinya tanpa aku mengambil hikmah dari setiap pertemuan yang dilakukan.

Kopdar, Deklarasi Offline Merdeka 2.0 (Memeriahkan HUT RI ke 64), Pesta Blogger 2009 Chapter Medan, and next......
Berangkat Laee....

Sedikit kenangan awak.,
Deklarasi Offline Merdeka 2.0

Pesta Blogger 2009 Chapter Medan


Yang bisa awak tonton







In House Training ESQ Goes to Campus

Rabu, Agustus 26, 2009



Ini merupakan kegiatan Training ESQ yang ditujukan kepada para Mahasiswa khususnya di Sumatera Utara.

Kegiatan ini merupakan bentuk dari rasa kepedulian FOSMA SUMUT (FOSMA Kampunk 165) dalam menyemarakkan kegiatan di Bulan Ramadhan.

Kriteria Suami Yang Sholeh

Selasa, November 11, 2008


Message:
Kriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Apabila Anda bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban berikut, Insya Allah Anda akan menjadi suami yang shaleh. Adapun kewajiban-kewajiban tersebut adalah,
Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan, sebagaimana firman Allah swt.,
“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)
”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)
Memberikan nafkah batin
Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.
”Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)
Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah swt. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.
”Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”
Memberi Bimbingan pada Keluarga
Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.
”Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)
”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)
Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya
Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya
”Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)
”...dan bergaullah dengan mereka secara baik...” (Q.S. An-Nisaa :19)
”Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.”(H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, dan yang lainnya)
Apabila empat kewajiban ini Anda kerjakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah Anda akan menjadi suami yang ideal bagi istri dan menjadi ayah yang jadi kebanggaan anak-anaknya. Semoga! Wallahu A'lam.

Kalau cinta, katakan cinta

Jumat, Agustus 15, 2008

kita simak hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. “menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta”.

Perhatikan, ungkapan “menampakkan belas kasihnya” itu mengisyaratkan bahwa Rasulullah saw. “menampakkan cinta” atau “mengekspresikan rasa cinta”. Dengan kata lain, seandainya isyarat tersebut kita terima, maka mengekspresikan rasa cinta merupakan sunnah beliau. (Dalam hal ini, rasa cinta beliau adalah cinta dalam arti umum, bukan sekadar asmara.)

Sunnah beliau tersebut mengingatkan saya pada sebuah hadits riwayat Abu Dawud dari Anas r.a. berikut ini.

Ada seseorang duduk di sisi Nabi saw, mendadak ada seseorang berlalu [di depan mereka]. Orang [yang duduk itu] berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintai orang itu.”

Nabi bertanya, “Apa kau sudah memberitahu orang itu bahwa kau mencintai dia?”

Jawabnya, “Belum.”

Bersabda Nabi saw., “Beritahulah dia!”

Maka dikejarnya orang itu dan kemudian dikatakan kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah.”

Jawabnya, “Semoga Allah mencintaimu sebagaimana kau mencintaiku karena Dia.”

Sejalan dengan hadits tersebut, bersabda pula Nabi saw, “Bila seseorang mencintai saudaranya [sesama muslim], hendaklah ia memberitahu dia bahwa ia mencintai dia.” (HR Abu Dawud dari al-Miqdad bin Ma’di Karib r.a.)

Dengan demikian, oleh Nabi saw, kita dianjurkan untuk mengekspresikan rasa cinta. Memang, pada dua hadits riwayat Abu Dawud itu, rasa cinta yang dimaksudkan adalah cinta dalam arti umum, bukan sekadar asmara. Namun, hadits riwayat Thabrani yang kita simak kemarin lusa menunjukkan bahwa “beliau menampakkan belas kasihnya” kepada sepasang lelaki-perempuan yang saling mengungkapkan cinta asmara. Itu berarti bahwa beliau merestui ekspresi cinta asmara. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 75)

Jadi, di samping bahwa cinta itu bukan dosa, mengekspresikannya pun ternyata direstui junjungan kita, Muhammad saw. Oleh karena itu, akankah kita membiasakan diri merahasiakan rasa cinta asmara?

Dzikir Untuk mengatasi maslah selingkuh

Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 7, “Atasi Masalah Selingkuh”. Isinya: cara dzikir [1] supaya tidak selingkuh, [2] supaya suami atau kekasih anda tidak selingkuh, [3] supaya tiada lagi perselingkuhan.

7

Atasi Masalah Selingkuh

Hikayat Zulaikha-Yusuf

“Muda belia, gagah, dan tampan tiada duanya. Vaness Wu dan Ade Rai pun bukan bandingannya. …” Pariwara persuasif ini berkibar-kibar di atas gapura alun-alun. Dipajang di situ oleh Rahwana, sang pedagang budak.

Syahdan, tersedotlah tokoh-tokoh dunia komik ke tengah alun-alun. Paman Gober datang menawar. Yusuf, si budak ganteng, hendak dibarter dengan selembar kain kafan. “Pernah berusaha memiliki Mr. Universe merupakan kehormatan besar bagiku,” pikirnya.

“Satu juta Yen!” teriak Sin-chan di atas panggung sambil goyang ngebor, ngecor, ngekor. Tetapi pelelangan belum usai.

“Kutukar Yusuf dengan chip mikro-prosesor tercanggih seberat bobot dia!” sembur Richie Rich.

“Tidak!” tukas si cantik Zulaikha, istri Aziz. Yusuf adalah segalanya bagiku, batin wanita ini. “Kubayar dengan kilang-kilang minyak Sumatera, hutan-hutan kayu Kalimantan, dan gunung-gunung emas Papua,” ujarnya.

Kali ini, tawaran tak tertandingi. Maka, Yusuf diboyong ke istananya yang megah. Mirip aquarium.

Di aquarium sekokoh piramid itu, si Kucing Jelita membuka mata. Ia pun memasang umpan pada mata kail, pancing, jaring, pukat, dan segala macam jerat.

Namun, si Ikan Rupawan mengenali mana vaksin, mana virus. Dengan gesit, ia terus berenang di sela-sela perangkap.

Zulaikha tak kurang akal. Ia jebloskan Yusuf ke dalam kamar kostku.

Haaahhh? Kamar kostku? Mimpi ‘kali….

–Aisha Chuang,

Nikmatnya Asmara Islami

Kisah Zulaikha yang berusaha berselingkuh diungkapkan dalam Al-Qur’an di sejumlah ayat, khususnya pada surat ke-12 (Yusuf). Meski peristiwanya sudah sangat lama terjadinya, berabad-abad yang lalu, kisahnya masih selalu menarik untuk kita simak. Riwayatnya telah mengilhami para “tukang cerita” (pendongeng, pengarang, penyair, dsb.) untuk mengisahkannya kembali dalam versi masing-masing, seperti pada “Hikayat Zulaikha-Yuzuf” di atas.

Di masa sekarang, perselingkuhan masih menjadi momok yang mengerikan di dunia cinta. Tak sedikit rumah-tangga hancur (broken home) gara-gara suami atau istri berselingkuh. Tak jarang pasangan muda-mudi batal bersanding di pelaminan karena salah satunya atau bahkan keduanya berselingkuh.

Akibat dari perselingkuhan itu biasanya menyakitkan, sangat menyakitkan, sehingga menimbulkan trauma. Tak heran, sebagian orang diantara kita menjadi enggan menjalin atau menyambung kembali hubungan cinta dan tidak sudi membangun rumah-tangga. Kita takut disakiti.

Sebenarnya, perselingkuhan bukanlah sesuatu yang tidak dapat Anda atasi. Anda mampu mengatasinya. Apalagi bila upaya ini Anda perkokoh dengan dzikir “supaya [Anda] tidak selingkuh”, “suami [atau istri] atau kekasih Anda tidak selingkuh”, dan “supaya tiada lagi perselingkuhan [dalam hubungan cinta Anda dengan si dia]“.

Supaya Tidak Selingkuh

Orang bilang, kalau disodori ikan asin, kucing mana pun pasti melahapnya. Lantas, perumpamaan ini dijadikan sebagai alasan pembenar oleh sejumlah orang untuk berselingkuh. Ketika menjumpai peluang berselingkuh dengan seseorang yang menggiurkan, mereka bilang, “Mana tahan? Kucing mana yang tak menerkam ikan asin di depannya?”

Lho?! Kita ‘kan bukan kucing! Kita adalah manusia. Derajat kita lebih tinggi daripada hewan. Ngapain merendahkan diri sampai serendah derajat kucing?

Sebagai makhluk yang berderajat tinggi, kita sesungguhnya mampu menepis rangsangan untuk berselingkuh, dengan makhluk Tuhan yang paling sexy sekalipun. Contohnya ialah Yusuf a.s.. Meski dirayu oleh seorang wanita yang sangat cantik, sexy, murah-hati, dan kaya-raya, beliau mampu mempertahankan ketinggian derajatnya selaku manusia. Beliau mampu meredam api birahi beliau melalui dzikir.

Perhatikan: “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku (suamimu) telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS Yusuf [12]: 23)

Selaku manusia berderajat tinggi seperti Yusuf a.s., Anda juga mampu meredam api birahi melalui dzikir, sehingga tidak berselingkuh. Untuk itu, setiap kali muncul godaan untuk berselingkuh, silakan ucapkan dzikir singkat ala Yusuf a.s.:

Ma‘âdzallâh.

Aku berlindung kepada Allah.

(QS Yusuf [12]: 23)

Supaya Suami atau Kekasih Anda Tidak Selingkuh

Disamping meredam api birahi diri sendiri, sehingga tidak berselingkuh, dzikir kita dapat pula meredam gejolak seksual si dia, sehingga juga tidak berbuat serong. Dengan kata lain, dzikir Anda bisa mencegah berselingkuhnya suami (atau istri) atau kekasih Anda. Untuk itu, silakan sering-sering mengucap dzikir:

Fa innallâha kâna bimâ ta‘malûna khabîrâ.

(Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.)

(QS an-Nisaa’ [4]: 12 8)

Dengan dzikir tersebut, Anda menyertakan Allah SWT dalam mengamati segala tingkah atau perilaku suami (atau istri) atau kekasih Anda. Walaupun Anda tidak bisa sepenuhnya mengawasi si dia, masih ada Allah yang Mengetahui segala yang dia kerjakan. Allah pun Mengetahui apa yang Anda upayakan untuk mencegah perselingkuhannya. Insya’Allah Dia akan menjaga hati si dia, memberinya hidayah, sehingga dia tidak mengkhianati Anda.

Dengan demikian, Anda tak perlu khawatir kalau-kalau si dia berlaku sewenang-wenang atau meninggalkan Anda. Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir suaminya berlaku sewenang-wenang atau meninggalkannya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik, walaupun manusia itu bertabiat kikir. Dan jika kamu [bergaul] dengan baik dan memelihara dirimu [dari sikap sewenang-wenang], maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 12 8)

Supaya Tiada Lagi Perselingkuhan

Bagaimana bila telah terlanjur terjadi perselingkuhan? Ini pun masih dapat Anda atasi. Andai pernah terjadi perselingkuhan, itu bukan berarti pasti akan ada perselingkuhan lagi. Allah itu bukan hanya Mengetahui perselingkuhan tersebut, melainkan juga Mahabijaksana. Dengan kebijaksanaan-Nya, Dia akan menerima taubat kita dan menyukai perbaikan yang kita upayakan.

Allah SWT berfirman, “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketololan [atau kekhilafan], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa’ [4]: 16-17)

Oleh karena itu, supaya tiada lagi perselingkuhan dalam hubungan cinta Anda dengan si dia setelah pertaubatan dan perbaikan diri masing-masing, Anda dapat mengucap dzikir:

Wa kânallâhu ‘alîman hakîmâ.

(Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.)

(QS an-Nisaa’ [4]: 17)