Kalau cinta, katakan cinta
Jumat, Agustus 15, 2008
Perhatikan, ungkapan “menampakkan belas kasihnya” itu mengisyaratkan bahwa Rasulullah saw. “menampakkan cinta” atau “mengekspresikan rasa cinta”. Dengan kata lain, seandainya isyarat tersebut kita terima, maka mengekspresikan rasa cinta merupakan sunnah beliau. (Dalam hal ini, rasa cinta beliau adalah cinta dalam arti umum, bukan sekadar asmara.)
Sunnah beliau tersebut mengingatkan saya pada sebuah hadits riwayat Abu Dawud dari Anas r.a. berikut ini.
Ada seseorang duduk di sisi Nabi saw, mendadak ada seseorang berlalu [di depan mereka]. Orang [yang duduk itu] berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintai orang itu.”
Nabi bertanya, “Apa kau sudah memberitahu orang itu bahwa kau mencintai dia?”
Jawabnya, “Belum.”
Bersabda Nabi saw., “Beritahulah dia!”
Maka dikejarnya orang itu dan kemudian dikatakan kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah.”
Jawabnya, “Semoga Allah mencintaimu sebagaimana kau mencintaiku karena Dia.”
Sejalan dengan hadits tersebut, bersabda pula Nabi saw, “Bila seseorang mencintai saudaranya [sesama muslim], hendaklah ia memberitahu dia bahwa ia mencintai dia.” (HR Abu Dawud dari al-Miqdad bin Ma’di Karib r.a.)
Dengan demikian, oleh Nabi saw, kita dianjurkan untuk mengekspresikan rasa cinta. Memang, pada dua hadits riwayat Abu Dawud itu, rasa cinta yang dimaksudkan adalah cinta dalam arti umum, bukan sekadar asmara. Namun, hadits riwayat Thabrani yang kita simak kemarin lusa menunjukkan bahwa “beliau menampakkan belas kasihnya” kepada sepasang lelaki-perempuan yang saling mengungkapkan cinta asmara. Itu berarti bahwa beliau merestui ekspresi cinta asmara. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 75)
Jadi, di samping bahwa cinta itu bukan dosa, mengekspresikannya pun ternyata direstui junjungan kita, Muhammad saw. Oleh karena itu, akankah kita membiasakan diri merahasiakan rasa cinta asmara?
Dzikir Untuk mengatasi maslah selingkuh
Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 7, “Atasi Masalah Selingkuh”. Isinya: cara dzikir [1] supaya tidak selingkuh, [2] supaya suami atau kekasih anda tidak selingkuh, [3] supaya tiada lagi perselingkuhan.
7
Atasi Masalah Selingkuh
Hikayat Zulaikha-Yusuf
“Muda belia, gagah, dan tampan tiada duanya. Vaness Wu dan Ade Rai pun bukan bandingannya. …” Pariwara persuasif ini berkibar-kibar di atas gapura alun-alun. Dipajang di situ oleh Rahwana, sang pedagang budak.
Syahdan, tersedotlah tokoh-tokoh dunia komik ke tengah alun-alun. Paman Gober datang menawar. Yusuf, si budak ganteng, hendak dibarter dengan selembar kain kafan. “Pernah berusaha memiliki Mr. Universe merupakan kehormatan besar bagiku,” pikirnya.
“Satu juta Yen!” teriak Sin-chan di atas panggung sambil goyang ngebor, ngecor, ngekor. Tetapi pelelangan belum usai.
“Kutukar Yusuf dengan chip mikro-prosesor tercanggih seberat bobot dia!” sembur Richie Rich.
“Tidak!” tukas si cantik Zulaikha, istri Aziz. Yusuf adalah segalanya bagiku, batin wanita ini. “Kubayar dengan kilang-kilang minyak Sumatera, hutan-hutan kayu Kalimantan, dan gunung-gunung emas Papua,” ujarnya.
Kali ini, tawaran tak tertandingi. Maka, Yusuf diboyong ke istananya yang megah. Mirip aquarium.
Di aquarium sekokoh piramid itu, si Kucing Jelita membuka mata. Ia pun memasang umpan pada mata kail, pancing, jaring, pukat, dan segala macam jerat.
Namun, si Ikan Rupawan mengenali mana vaksin, mana virus. Dengan gesit, ia terus berenang di sela-sela perangkap.
Zulaikha tak kurang akal. Ia jebloskan Yusuf ke dalam kamar kostku.
Haaahhh? Kamar kostku? Mimpi ‘kali….
–Aisha Chuang,
Nikmatnya Asmara Islami
Kisah Zulaikha yang berusaha berselingkuh diungkapkan dalam Al-Qur’an di sejumlah ayat, khususnya pada surat ke-12 (Yusuf). Meski peristiwanya sudah sangat lama terjadinya, berabad-abad yang lalu, kisahnya masih selalu menarik untuk kita simak. Riwayatnya telah mengilhami para “tukang cerita” (pendongeng, pengarang, penyair, dsb.) untuk mengisahkannya kembali dalam versi masing-masing, seperti pada “Hikayat Zulaikha-Yuzuf” di atas.
Di masa sekarang, perselingkuhan masih menjadi momok yang mengerikan di dunia cinta. Tak sedikit rumah-tangga hancur (broken home) gara-gara suami atau istri berselingkuh. Tak jarang pasangan muda-mudi batal bersanding di pelaminan karena salah satunya atau bahkan keduanya berselingkuh.
Akibat dari perselingkuhan itu biasanya menyakitkan, sangat menyakitkan, sehingga menimbulkan trauma. Tak heran, sebagian orang diantara kita menjadi enggan menjalin atau menyambung kembali hubungan cinta dan tidak sudi membangun rumah-tangga. Kita takut disakiti.
Sebenarnya, perselingkuhan bukanlah sesuatu yang tidak dapat Anda atasi. Anda mampu mengatasinya. Apalagi bila upaya ini Anda perkokoh dengan dzikir “supaya [Anda] tidak selingkuh”, “suami [atau istri] atau kekasih Anda tidak selingkuh”, dan “supaya tiada lagi perselingkuhan [dalam hubungan cinta Anda dengan si dia]“.
Supaya Tidak Selingkuh
Orang bilang, kalau disodori ikan asin, kucing mana pun pasti melahapnya. Lantas, perumpamaan ini dijadikan sebagai alasan pembenar oleh sejumlah orang untuk berselingkuh. Ketika menjumpai peluang berselingkuh dengan seseorang yang menggiurkan, mereka bilang, “Mana tahan? Kucing mana yang tak menerkam ikan asin di depannya?”
Lho?! Kita ‘kan bukan kucing! Kita adalah manusia. Derajat kita lebih tinggi daripada hewan. Ngapain merendahkan diri sampai serendah derajat kucing?
Sebagai makhluk yang berderajat tinggi, kita sesungguhnya mampu menepis rangsangan untuk berselingkuh, dengan makhluk Tuhan yang paling sexy sekalipun. Contohnya ialah Yusuf a.s.. Meski dirayu oleh seorang wanita yang sangat cantik, sexy, murah-hati, dan kaya-raya, beliau mampu mempertahankan ketinggian derajatnya selaku manusia. Beliau mampu meredam api birahi beliau melalui dzikir.
Perhatikan: “Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku (suamimu) telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS Yusuf [12]: 23)
Selaku manusia berderajat tinggi seperti Yusuf a.s., Anda juga mampu meredam api birahi melalui dzikir, sehingga tidak berselingkuh. Untuk itu, setiap kali muncul godaan untuk berselingkuh, silakan ucapkan dzikir singkat ala Yusuf a.s.:
Ma‘âdzallâh.
Aku berlindung kepada Allah.
(QS Yusuf [12]: 23)
Supaya Suami atau Kekasih Anda Tidak Selingkuh
Disamping meredam api birahi diri sendiri, sehingga tidak berselingkuh, dzikir kita dapat pula meredam gejolak seksual si dia, sehingga juga tidak berbuat serong. Dengan kata lain, dzikir Anda bisa mencegah berselingkuhnya suami (atau istri) atau kekasih Anda. Untuk itu, silakan sering-sering mengucap dzikir:
Fa innallâha kâna bimâ ta‘malûna khabîrâ.
(Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kalian kerjakan.)
(QS an-Nisaa’ [4]: 12
Dengan dzikir tersebut, Anda menyertakan Allah SWT dalam mengamati segala tingkah atau perilaku suami (atau istri) atau kekasih Anda. Walaupun Anda tidak bisa sepenuhnya mengawasi si dia, masih ada Allah yang Mengetahui segala yang dia kerjakan. Allah pun Mengetahui apa yang Anda upayakan untuk mencegah perselingkuhannya. Insya’Allah Dia akan menjaga hati si dia, memberinya hidayah, sehingga dia tidak mengkhianati Anda.
Dengan demikian, Anda tak perlu khawatir kalau-kalau si dia berlaku sewenang-wenang atau meninggalkan Anda. Allah berfirman, “Dan jika seorang wanita khawatir suaminya berlaku sewenang-wenang atau meninggalkannya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik, walaupun manusia itu bertabiat kikir. Dan jika kamu [bergaul] dengan baik dan memelihara dirimu [dari sikap sewenang-wenang], maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 12
Supaya Tiada Lagi Perselingkuhan
Bagaimana bila telah terlanjur terjadi perselingkuhan? Ini pun masih dapat Anda atasi. Andai pernah terjadi perselingkuhan, itu bukan berarti pasti akan ada perselingkuhan lagi. Allah itu bukan hanya Mengetahui perselingkuhan tersebut, melainkan juga Mahabijaksana. Dengan kebijaksanaan-Nya, Dia akan menerima taubat kita dan menyukai perbaikan yang kita upayakan.
Allah SWT berfirman, “Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketololan [atau kekhilafan], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa’ [4]: 16-17)
Oleh karena itu, supaya tiada lagi perselingkuhan dalam hubungan cinta Anda dengan si dia setelah pertaubatan dan perbaikan diri masing-masing, Anda dapat mengucap dzikir:
Wa kânallâhu ‘alîman hakîmâ.
(Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.)
(QS an-Nisaa’ [4]: 17)



